BNPT: Pancasila adalah substansi perintah Tuhan dalam agama

Sedang Trending 4 hari yang lalu 3
ARTICLE AD BOX

Jakarta (ANTARA) - Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid mengatakan Pancasila adalah substansi perintah Tuhan dalam kepercayaan lantaran ideologi negara itu tidak bertentangan dengan kitab suci kepercayaan apa pun.

"Pancasila adalah dasar negara kita, meski itu bukan kepercayaan dan tidak untuk menggantikan agama; tapi Pancasila adalah substansi perintah Tuhan dalam kepercayaan lantaran Pancasila tidak bertentangan dengan kitab suci kepercayaan apa pun," kata Nurwakhid dalam keterangan nan diterima di Jakarta, Kamis.

Nurwakhid mengatakan perihal itu saat membuka dan memberikan vaksinasi ideologi kepada peserta Regenerasi Duta Damai Dunia Maya Regional Sulawesi Utara di Manado.

Selain Pancasila, lanjut Nurwakhid, bangsa Indonesia mempunyai budaya dan kearifan lokal nan tidak dimiliki negara lain, seperti silaturahmi dan gotong royong. Itu dibuktikan dengan kehidupan masyarakat nan selaras dalam keberagaman dengan dilandasi rasa toleransi tinggi antarumat beragama.

Baca juga: LPOI: Khilafah bukan solusi dari persoalan kebangsaan

Menurut dia, harmoni dalam keberagaman kudu dipertahankan apalagi diperkuat untuk menciptakan kedamaian dan kerukunan. Kemudian, tambahnya, Indonesia juga mempunyai organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan nan moderat.

"Pancasila, budaya dan kearifan lokal, dan ormas moderat inilah nan sedang dan bakal terus dirusak oleh golongan radikalisme dan terorisme," kata Nurwakhid.

Dia juga menjelaskan bahwa terorisme bukan tujuan akhir, tapi perangkat untuk mencapai tujuan sarana propaganda guna mencapai utamanya ialah aktivitas politik nan mau mengambilalih kekuasaan, dan mendirikan negara kepercayaan menurut jenis mereka dengan mendistorsi, memanipulasi, dan mempolitisasi agama.

"Jadi, terorisme itu hilirnya, hulunya radikalisme. Ini virus lantaran semua teroris pasti dijiwai radikalisme, meski mereka nan terpapar radikalisme tidak mesti jadi terorisme,” kata mantan kepala bagian Ops Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri itu.

Baca juga: BNPT komitmen cegah dan berantas pendanaan terorisme

Dalam kesempatan itu, dia juga memberikan pemahaman para peserta tentang apa itu radikalisme. Dia menjelaskan bahwa radikalisme adalah mengerti anti-Pancasila, anti- Bhinneka Tunggal Ika, anti-NKRI, dan anti-UUD 1945.

Berawal dari terpapar radikalisme, para pelaku teror bakal kecewa, frustasi, dendam, dan benci, hingga berujung dengan melakukan tindakan terorisme.

"Mereka memecah belah umat, memunculkan fobia, jika dibiarkan bakal menimbulkan konflik. Sebelum terjadi konflik, biasanya didahului maraknya radikalisme mengatasnamakan kepercayaan dan bekerja-sama dengan pihak anti-pemerintah nan sah dan asing. Ini namanya neo-kolonialisme alias corak baru yaitu, proxy war, dan proxy ideology," ujar Nurwakhid.

Baca juga: Indonesia dan Kanada jalin kerja sama penanggulangan terorisme

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Fransiska Ninditya
COPYRIGHT © ANTARA 2022