Mengenal Perdana Menteri baru Malaysia Anwar Ibrahim

Sedang Trending 4 hari yang lalu 4
ARTICLE AD BOX

Kuala Lumpur (ANTARA) - Perdana Menteri baru Malaysia Anwar Ibrahim nan dilantik pada Kamis, mengakhiri perjalanan panjangnya untuk posisi nan lama diincar dan menyebabkannya kudu menjalani nyaris satu dasawarsa hidupnya di penjara.

Sebagai pemimpin oposisi, Anwar (75) memimpin puluhan ribu penduduk Malaysia dalam protes jalanan pada 1990-an melawan pembimbing nan kemudian menjadi musuhnya, Mahathir Mohamad.

Anwar memulai perjalanan politiknya sebagai pemimpin pemuda Islam sebelum berasosiasi dengan Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) ketua perdana menteri Mahathir, nan memimpin aliansi Barisan Nasional.

Hubungannya nan tegang dengan pemimpin veteran itu membentuk pekerjaan Anwar sendiri, serta lanskap politik Malaysia, selama nyaris tiga dekade.

Anwar pernah menghabiskan nyaris satu dasawarsa di penjara lantaran kasus sodomi dan korupsi---dua tuduhan nan menurutnya bermotivasi politik.

Mahathir menyebut Anwar sebagai kawan dan anak didiknya, dan menunjuknya sebagai penggantinya.

Namun, di tengah tuntutan pidana dan perbedaan pendapat tentang gimana menangani krisis finansial Asia pada 1998, dia mengatakan Anwar tidak layak memimpin "karena karakternya".

Keduanya berbaikan sejenak pada 2018 untuk menggulingkan kekuasaan dengan aliansi politik nan pernah mereka miliki, kemudian kembali berbeda dalam waktu dua tahun dan mengakhiri masa pemerintahan mereka nan hanya berumur 22 bulan.

Kala itu, Malaysia terjerumus dalam periode ketidakstabilan.

Terpilihnya Anwar sebagai perdana menteri mengakhiri krisis politik Malaysia setelah pemilihan pada Sabtu (19/11) menempatkan parlemen ke posisi nan belum pernah terjadi sebelumnya.

Meskipun blok progresif Anwar memenangi bangku terbanyak di parlemen, tetapi hasil perolehan bunyi tidak mencapai mayoritas.

Anwar mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara sebelum pemilihan bahwa dia bakal berupaya "menekankan pemerintahan dan antikorupsi, dan membersihkan negara ini dari rasisme dan kefanatikan agama".

Selama beberapa dekade, Anwar menyerukan inklusivitas dan perombakan sistem politik di negara multietnis itu.

Sekitar 70 persen dari populasi Malaysia nan berjumlah nyaris 33 juta terdiri dari etnis Melayu, nan sebagian besar Muslim, dan sisanya adalah kelompok etnis China dan India.

Anwar menyerukan penghapusan kebijakan nan mendukung orang Melayu dan diakhirinya sistem patronase nan membikin koalisi penguasa terpanjang Malaysia, Barisan Nasional, tetap berkuasa.

Seruannya tentang reformasi bergaung di seluruh negeri dan tetap menjadi janji utama aliansinya.

Pendukung Anwar mengungkapkan angan bahwa pemerintahan pemimpin karismatik mereka bakal mencegah kembalinya ketegangan berhistoris antara etnis Melayu, kebanyakan Muslim, dan minoritas etnis China dan India.

"Yang kami inginkan adalah moderasi untuk Malaysia dan Anwar mewakili itu," kata seorang manajer komunikasi di Kuala Lumpur, nan meminta untuk diidentifikasi dengan nama family Tang.

"Kita tidak dapat mempunyai negara nan terbagi oleh ras dan kepercayaan lantaran itu bakal membikin kita mundur  sepuluh tahun lagi," ujar dia.

James Chai, analis politik ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, menilai Anwar muncul sebagai pemimpin di masa nan tepat.

"Selalu dianggap sebagai orang nan bisa menyatukan semua faksi nan bertikai, sudah sepantasnya Anwar muncul pada masa nan memecah belah," kata Chai.

Sumber: Reuters
Baca juga: Megawati ucapkan selamat kepada Anwar Ibrahim
Baca juga: Anwar Ibrahim jadi Perdana Menteri Malaysia ke-10
Baca juga: Anwar Ibrahim optimistis dapat corak pemerintahan baru dengan BN

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2022